Jumat, 16 Mei 2014

KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA DI INDONESIA

Kerukunan Dalam BerAgama
A. Kerukunan Antar Umat Beragama di Indonesia
Kerukunan merupakan kebutuhan bersama yang tidak dapat dihindarkan di Tengah perbedaan. Perbedaan yang ada bukan merupakan penghalang untuk hidup rukun dan berdampingan dalam bingkai persaudaraan dan persatuan. Kesadaran akan kerukunan hidup umat beragama yang harus bersifat Dinamis, Humanis dan Demokratis, agar dapat ditransformasikan kepada masyarakat dikalangan bawah sehingga, kerukunan tersebut tidak hanya dapat dirasakan/dinikmati oleh kalangan-kalangan atas/orang kaya saja.
Karena, Agama tidak bisa dengan dirinya sendiri dan dianggap dapat memecahkan semua masalah. Agama hanya salah satu faktor dari kehidupan manusia. Mungkin faktor yang paling penting dan mendasar karena memberikan sebuah arti dan tujuan hidup. Tetapi sekarang kita mengetahui bahwa untuk mengerti lebih dalam tentang agama perlu segi-segi lainnya, termasuk ilmu pengetahuan dan juga filsafat. Yang paling mungkin adalah mendapatkan pengertian yang mendasar dari agama-agama. Jadi, keterbukaan satu agama terhadap agama lain sangat penting. Kalau kita masih mempunyai pandangan yang fanatik, bahwa hanya agama kita sendiri saja yang paling benar, maka itu menjadi penghalang yang paling berat dalam usaha memberikan sesuatu pandangan yang optimis. Namun ketika kontak-kontak antaragama sering kali terjadi sejak tahun 1950-an, maka muncul paradigma dan arah baru dalam pemikiran keagamaan. Orang tidak lagi bersikap negatif dan apriori terhadap agama lain. Bahkan mulai muncul pengakuan positif atas kebenaran agama lain yang pada gilirannya mendorong terjadinya saling pengertian. Di masa lampau, kita berusaha menutup diri dari tradisi agama lain dan menganggap agama selain agama kita sebagai lawan yang sesat serta penuh kecurigaan terhadap berbagai aktivitas agama lain, maka sekarang kita lebih mengedepankan sikap keterbukaan dan saling menghargai satu sama lain.

B. Kendala-Kendala
I.                    Rendahnya Sikap Toleransi
Menurut Dr. Ali Masrur, M.Ag, salah satu masalah dalam komunikasi antar agama sekarang ini, khususnya di Indonesia, adalah munculnya sikap toleransi malas-malasan (lazy tolerance) sebagaimana diungkapkan P. Knitter. Sikap ini muncul sebagai akibat dari pola perjumpaan tak langsung (indirect encounter) antar agama, khususnya menyangkut persoalan teologi yang sensitif. Sehingga kalangan umat beragama merasa enggan mendiskusikan masalah-masalah keimanan. Tentu saja, dialog yang lebih mendalam tidak terjadi, karena baik pihak yang berbeda keyakinan/agama sama-sama menjaga jarak satu sama lain. Masing-masing agama mengakui kebenaran agama lain, tetapi kemudian membiarkan satu sama lain bertindak dengan cara yang memuaskan masing-masing pihak. Yang terjadi hanyalah perjumpaan tak langsung, bukan perjumpaan sesungguhnya. Sehingga dapat menimbulkan sikap kecurigaan diantara beberapa pihak yang berbeda agama, maka akan timbullah yang dinamakan konflik.

II.                  Kepentingan Politik
Faktor Politik, Faktor ini terkadang menjadi faktor penting sebagai kendala dalam mncapai tujuan sebuah kerukunan anta umat beragama khususnya di Indonesia, jika bukan yang paling penting di antara faktor-faktor lainnya. Bisa saja sebuah kerukunan antar agama telah dibangun dengan bersusah payah selama bertahun-tahun atau mungkin berpuluh-puluh tahun, dan dengan demikian kita pun hampir memetik buahnya. Namun tiba-tiba saja muncul kekacauan politik yang ikut memengaruhi hubungan antaragama dan bahkan memorak-porandakannya seolah petir menyambar yang dengan mudahnya merontokkan “bangunan dialog” yang sedang kita selesaikan. Seperti yang sedang terjadi di negeri kita saat ini, kita tidak hanya menangis melihat political upheavels di negeri ini, tetapi lebih dari itu yang mengalir bukan lagi air mata, tetapi darah; darah saudara-saudara kita, yang mudah-mudahan diterima di sisi-Nya. Tanpa politik kita tidak bisa hidup secara tertib teratur dan bahkan tidak mampu membangun sebuah negara, tetapi dengan alasan politik juga kita seringkali menunggangi agama dan memanfaatkannya.

III.                Sikap Fanatisme
Di kalangan Islam, pemahaman agama secara eksklusif juga ada dan berkembang. Bahkan akhir-akhir ini, di Indonesia telah tumbuh dan berkembang pemahaman keagamaan yang dapat dikategorikan sebagai Islam radikal dan fundamentalis, yakni pemahaman keagamaan yang menekankan praktik keagamaan tanpa melihat bagaimana sebuah ajaran agama seharusnya diadaptasikan dengan situasi dan kondisi masyarakat. Mereka masih berpandangan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar dan dapat menjamin keselamatan menusia. Jika orang ingin selamat, ia harus memeluk Islam. Segala perbuatan orang-orang non-Muslim, menurut perspektif aliran ini, tidak dapat diterima di sisi Allah.

Pandangan-pandangan semacam ini tidak mudah dikikis karena masing-masing sekte atau aliran dalam agama tertentu, Islam misalnya, juga memiliki agen-agen dan para pemimpinnya sendiri-sendiri. Islam tidak bergerak dari satu komando dan satu pemimpin. Ada banyak aliran dan ada banyak pemimpin agama dalam Islam yang antara satu sama lain memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang agamanya dan terkadang bertentangan. Tentu saja, dalam agama Kristen juga ada kelompok eksklusif seperti ini. Kelompok Evangelis, misalnya, berpendapat bahwa tujuan utama gereja adalah mengajak mereka yang percaya untuk meningkatkan keimanan dan mereka yang berada “di luar” untuk masuk dan bergabung. Bagi kelompok ini, hanya mereka yang bergabung dengan gereja yang akan dianugerahi salvation atau keselamatan abadi. Dengan saling mengandalkan pandangan-pandangan setiap sekte dalam agama teersebut, maka timbullah sikap fanatisme yang berlebihan.
Dari uraian diatas, sangat jelas sekali bahwa ketiga faktor tersebut adalah akar dari permasalahan yang menyebabkan konflik sekejap maupun berkepanjangan.

C. Solusi
I.                     Dialog Antar Pemeluk Agama
Sejarah perjumpaan agama-agama yang menggunakan kerangka politik secara tipikal hampir keseluruhannya dipenuhi pergumulan, konflik dan pertarungan. Karena itulah dalam perkembangan ilmu sejarah dalam beberapa dasawarsa terakhir, sejarah yang berpusat pada politik yang kemudian disebut sebagai sejarah konvensional dikembangkan dengan mencakup bidang-bidang kehidupan sosial-budaya lainnya, sehingga memunculkan apa yang disebut sebagai sejarah baru (new history). Sejarah model mutakhir ini lazim disebut sebagai sejarah sosial (social history) sebagai bandingan dari sejarah politik (political history). Penerapan sejarah sosial dalam perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia akan sangat relevan, karena ia akan dapat mengungkapkan sisi-sisi lain hubungan para penganut kedua agama ini di luar bidang politik, yang sangat boleh jadi berlangsung dalam saling pengertian dan kedamaian, yang pada gilirannya mewujudkan kehidupan bersama secara damai (peaceful co-existence) di antara para pemeluk agama yang berbeda.

Hampir bisa dipastikan, perjumpaan Kristen dan Islam (dan juga agama-agama lain) akan terus meningkat di masa-masa datang. Sejalan dengan peningkatan globalisasi, revolusi teknologi komunikasi dan transportasi, kita akan menyaksikan gelombang perjumpaan agama-agama dalam skala intensitas yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Dengan begitu, hampir tidak ada lagi suatu komunitas umat beragama yang bisa hidup eksklusif, terpisah dari lingkungan komunitas umat-umat beragama lainnya. Satu contoh kasus dapat diambil: seperti dengan meyakinkan dibuktikan Eck (2002), Amerika Serikat, yang mungkin oleh sebagian orang dipandang sebagai sebuah negara Kristen, telah berubah menjadi negara yang secara keagamaan paling beragam. Saya kira, Indonesia, dalam batas tertentu, juga mengalami kecenderungan yang sama. Dalam pandangan saya, sebagian besar perjumpaan di antara agama-agama itu, khususnya agama yang mengalami konflik, bersifat damai. Dalam waktu-waktu tertentu?ketika terjadi perubahan-perubahan politik dan sosial yang cepat, yang memunculkan krisis? pertikaian dan konflik sangat boleh jadi meningkat intensitasnya. Tetapi hal ini seyogyanya tidak mengaburkan perspektif kita, bahwa kedamaian lebih sering menjadi feature utama. Kedamaian dalam perjumpaan itu, hemat saya, banyak bersumber dari pertukaran (exchanges) dalam lapangan sosio-kultural atau bidang-bidang yang secara longgar dapat disebut sebagai non-agama. Bahkan terjadi juga pertukaran yang semakin intensif menyangkut gagasan-gagasan keagamaan melalui dialog-dialog antaragama dan kemanusiaan baik pada tingkat domestik di Indonesia maupun pada tingkat internasional; ini jelas memperkuat perjumpaan secara damai tersebut. Melalui berbagai pertukaran semacam ini terjadi penguatan saling pengertian dan, pada gilirannya, kehidupan berdampingan secara damai.


II.                 Bersikap Optimis
Walaupun berbagai hambatan menghadang jalan kita untuk menuju sikap terbuka, saling pengertian dan saling menghargai antaragama, saya kira kita tidak perlu bersikap pesimis. Sebaliknya, kita perlu dan seharusnya mengembangkan optimisme dalam menghadapi dan menyongsong masa depan dialog.

Paling tidak ada tiga hal yang dapat membuat kita bersikap optimis. Pertama, pada beberapa dekade terakhir ini studi agama-agama, termasuk juga dialog antaragama, semakin merebak dan berkembang di berbagai universitas, baik di dalam maupun di luar negeri. Selain di berbagai perguruan tinggi agama, IAIN dan Seminari misalnya, di universitas umum seperti Universitas Gajah Mada, juga telah didirikan Pusat Studi Agama-agama dan Lintas Budaya. Meskipun baru seumur jagung, hal itu bisa menjadi pertanda dan sekaligus harapan bagi pengembangan paham keagamaan yang lebih toleran dan pada akhirnya lebih manusiawi. Juga bermunculan lembaga-lembaga kajian agama, seperti Interfidei dan FKBA di Yogyakarta, yang memberikan sumbangan dalam menumbuhkembangkan paham pluralisme agama dan kerukunan antarpenganutnya.

Kedua, para pemimpin masing-masing agama semakin sadar akan perlunya perspektif baru dalam melihat hubungan antar-agama. Mereka seringkali mengadakan pertemuan, baik secara reguler maupun insidentil untuk menjalin hubungan yang lebih erat dan memecahkan berbagai problem keagamaan yang tengah dihadapi bangsa kita dewasa ini. Kesadaran semacam ini seharusnya tidak hanya dimiliki oleh para pemimpin agama, tetapi juga oleh para penganut agama sampai ke akar rumput sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara pemimpin agama dan umat atau jemaatnya. Kita seringkali prihatin melihat orang-orang awam yang pemahaman keagamaannya bahkan bertentangan dengan ajaran agamanya sendiri. Inilah kesalahan kita bersama. Kita lebih mementingkan bangunan-bangunan fisik peribadatan dan menambah kuantitas pengikut, tetapi kurang menekankan kedalaman (intensity) keberagamaan serta kualitas mereka dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama.

Ketiga, masyarakat kita sebenarnya semakin dewasa dalam menanggapi isu-isu atau provokasi-provokasi. Mereka tidak lagi mudah disulut dan diadu-domba serta dimanfaatkan, baik oleh pribadi maupun kelompok demi target dan tujuan politik tertentu. Meskipun berkali-kali masjid dan gereja diledakkan, tetapi semakin teruji bahwa masyarakat kita sudah bisa membedakan mana wilayah agama dan mana wilayah politik. Ini merupakan ujian bagi agama autentik (authentic religion) dan penganutnya. Adalah tugas kita bersama, yakni pemerintah, para pemimpin agama, dan masyarakat untuk mengingatkan para aktor politik di negeri kita untuk tidak memakai agama sebagai instrumen politik dan tidak lagi menebar teror untuk mengadu domba antarpenganut agama.

Jika tiga hal ini bisa dikembangkan dan kemudian diwariskan kepada generasi selanjutnya, maka setidaknya kita para pemeluk agama masih mempunyai harapan untuk dapat berkomunikasi dengan baik dan pada gilirannya bisa hidup berdampingan lebih sebagai kawan dan mitra daripada sebagai lawan.

Sumber :

http://www.garnet.blogdetik.com/2009/12/12/kerukunan-antar-umat-beragama-di-indonesia/

Selasa, 25 Maret 2014

MANUSIA DAN PERADABAN


A.   PENGERTIAN
Dikalangan para ahli sampai saat ini sering terjadi perbedaan pendapat mengenai kedua istilah (kebudayaan & peradaban) yang sering dicampuradukkan itu bahkan pendapat di antara para ahli kadang-kadang bertentangan satu sama lain;

v  Bierens De Hann : Perdaban adalah bidang kehidupan untuk kegunaan yang praktis, sedangkan kebudayaan ialah sesuatu yang bersal dari hasrat dan gairah yang lebih dan murni yang berada diatas tujuan yang praktis hubungan kemasyarakatan.
v  Oswald Spengl (1880-1936) Kebudayaan ialah wujud dari seluruh kehidupan adat, industrial filsafat dan sebagainya, peradaban ialah kebudayaan yang sudah tidak tumbuh lagi sudah mati.
v  Prof. Dr. koetjaraningrat,  Peradaban ialah bagian-bagian kebudayaan yang halus dan indah seperti    kesenian.

Peradaban merupakan suatu istilah yang digunakan untuk menyebutkan bagian-bagian untuk unsur kebudayaan yang dianggap halus, indah, dan maju. Misalnya perkembangan kesenian, IPTEK, kepandaian manusia, dan sebagainya di mana tiap bangsa di dunia memiliki karakter kebudayaan yang khas maka tak heran bila sebuah Negara hanya unggul IPTEK-nya saja atau keseniannya saja misalnya.

Berikut beberapa pengertian peradaban, perdaban menurut Fairchild, dkk (1980: 41) dalam Nursyid (1996: 67):


Civilization is cultural development; distinctly human
attributes and attainment of particular society, in ordinary
usage, the term implies a fairly high stage on the cultural
evolutionary scale. Reference is made to “civilized peoples”.
More accurate usage world refer to more highly civilized
peoples, the determinative characteristic being intellectual,
aesthetic, technological, and spiritual attainment.



B.   HAKIKAT HIDUP MANUSIA
Manusia dalam kehidupannya memiliki tiga fungsi, sebagai makhluk Tuhan, individu social-budaya. Yang saling berkaitan di mana kepada Tuhan memiliki kewajiban untuk mengabdi pada Tuhan, sebagai individu harus memenuhi segala kebutuhan pribadinya dan sebagai makhluk social-budaya harus hidup berdampingan  dengan orang lain dalam kehidupan yang selaras dan saling membantu.

Kebudayaan itu dapat diterima dengan tiga bentuk:
v  Melalui pengalaman hidup saat menghadapi lingkungan.
v  Memalui pengalaman hidup sebagai makhluk social.
v  Melalui komunikasi simbolis (benda, tubuh, gerak tubuh, peristiwa dan lain lagi yang tahu sejenis).

Karena tiap kebudayaan berbeda namun pada dasarnya memiliki hakikat yang sama, yaitu:
   v  Terwujud dan tersalurkan lewat prilaku manusia.
   v  Sudah ada sejak lahirnya generasi dan tetap ada setelah pengganti mati.
   v  Diperlukan manusia yang diwujudkan lewat tingkah laku.
   v  Berisi aturan yang berisi kewajiban, tindakan yang diterima atau tidak, larangan, dan pantangan.

V. Gordyn Chillde, ahli arkeolog, berdasarkan bukti arkeologis, perdaban maju pertama-tama muncul di daerah Mesopotamia sekitar 8000-4000 SM, di ikuti oleh daerah Mesir 5000-3000 SM. Lembah sungai Indus di India 2600-2400 SM. Cina utara 2500-300 SM, Mesopotamia 3000-500 SM dan daerah Peru Amerika Latin 2500-500 SM. Penemuan ini yang paling penting adalah kemajuan dan kepandaian bercocok tanam disamping penemuan teknologi baru.


C.   PERDABAN DAN PERUBAHAN SOSIAL
               1 .      Pengertian dan Cangkupan Perubahan Sosial
         Perubahan sosial merupakan gejala yang melekat disetiap masyarakat. Perubahan-perubahan yang     terjadi didalam masyarakat akan menimbulkan ketidaksesuaian antara unsur-unsur sosial yang ada di      dalam masyarakat, sehingga menghasilkan suatu pola kehidupan yang tidak sesuai fungsinya bagi              masyarakat yang bersanghkutan.
             2.      Teori dan Bentuk Perubahan Sosial
a.      Teori sebab-akibat (Causation Problem)
Faktor inilah yang menyebabkan perubahan sosial yang dikemukakan oleh para ahli:
-         Analisis Dialektis
-         Teori Tunggal Mengenai Perubahan Sosial
b.      Teori Proses atau Arah Perubahan Sosial
Kebanyakan teori ini berarah perubahan sosial yang berkecendrungan bersifat kamulatif dan evolusioner..
1)      Teori Evolusi Unilinier (Garis Lurus Tunggal)
Teori ini berpendapat bahwa manusia dan masyarakat mengalami perkembangan secara bertahap dari Sederhana – Kompleks – Sempurna. Pelopor teori ini adalah August Comte dan Herbert Spenser.
2)      Teori Multilinear
Teori ini pada artinya menggambarkan suatu meteologi didasarkan pada suatu asumsi yang menyatakan bahwa perubahan sosial atau kebudayaan didapatkan gejala keteraturan yang nyata dan signifikan.

       D.   TEORI-TEORI MENGENAI PEMBANGUNAN, KETERBELAKANGAN,         DAN KETERGANTUNGAN.
          1.      Teori Dependensi (ketergantungan)
Teori ini menjadi titik tolak penyesuaian ekonomi terbelakang pada system dunia, sedemikian rupa sehingga menyebabkan terjadinya penyerahan sumber penghasilan daerah kepusat, sehingga mengakibatkan perekon omian dareah menjadi terbelakang.
      Teori perubahan sosial menurut Moore:

                   1.      Evolusi rectilineal yang sangat sederhana.
                   2.      Evolusi melalui tahap-tahap.
                   3.      Evolusi yang terjadi dengan tahap kelajuan yang tidak serasi.
                   4.      Evolusi bercabang yang mewujudkan perubahan .
                   5.      Evolusi menurut siklus-siklus tertentu dengan kemunduran jangka pendek
                   6.      siklus-siklus yang tidak mempunyai kecenderungan.
                   7.      Pertemuan logistic yang digambarkan oleh populasi.
                   8.      Pertumbuhan logistic terbalik yang tergambar dan angka motivasi.
                   9.      Pertumbuhan eksponarisial yang tergambar memulai tanda-tanda.
                  10.  Primitivisme.

           
         2.      Penyebab Perubahan
         Prof. Dr. Soerjono Soekanto menyebut adanya faktor intern dan ekstern yang menyebabkan                   perubahan sosial dalam masyarakat, yaitu:
a.       Faktor Intern
Ø  Bertambahnya dan berkurangnya penduduk.
Ø  Adanya penemuan-penemuan baru yang meliputi berbagai proses
-         Discovery, penemuan unsur kebudayaan baru.
-         Invention, pengembangan dari discovery.
-         Innovation, proses pembaruan.
Ø  Konflik dalam masyarakatpembrontakan dalam tubuh masyarakat.

b.      Faktor Ekstern
Ø  Faktor alam yang ada disekitar masyarakat yang berubah.
Ø  Pengaruh kebudayaan lain dengan melalui adanya kontak kebudayaan antara dua masyarakat atau lebih yang yang memilikin kebudayaan yang berbeda.
         3.      Keseimbangan
Keseimbangan sosial adalah syarat yang harus dipenuhi agar masyarakat berfungsi sebagaimana mestinya.
Robert mclver perubahan-perubahan soial merupakan perubahan dalam hubungan-hubungan sosial atau perubahan terhadap keseimbangan hubungan sosial.

       E.   MODERNISASI
          1.      Konsep modernisasi
Modernisasi dimulai di Italia abad ke-15 dan tersebar ke sebagian besar ke dunia Barat dalam lima abad berikutnya.
Modernisasi masyarakat adalah suatu proses transformasi yang merubah:
Ø  Di bidang ekonomi, modernisasi berarti tumbuhnya kompleks industri yang besar, di mana produksi barang konsumsi dan sarana dibuat secara massal.
Ø  Di bidang politik, dikatakan bahwa ekonomi yang modern memerlukan adanya masyarakat nasional dengan integrasi yang baik.

Modernisasi menimbulkan pembaruan dalam kehidupan. Oleh karena itu, modernisasi sangat digharapkan berlangsungnya oleh masyarakat. Bahkan bagi pemerintah merupakan suatu proses yang sedang diusahakan secara terarah. Modernisasi menurut Cyril Edwin Black adalah rangkaian perubahan secara hidup manusia yang kompleks dan saling berhubungan, merupakan bagian pengalaman yang universal dan yang dalam banyak kesempatan merupakan harapan bagi kesejahtreaan manusia.

        2.      Syarat-syarat Modernisasi
Modernisasi tidak sama dengan reformasi yang menekankan pada faktor rehabilitas,  modernisasi bersifat preventif, dan kontraktif agar proses tersebut tidak mengarah pada ngan-angan. Modernisasi dapat terwujud melalui beberapa syarat, yaitu:
Ø  Cara berfikir ilmiah yang institutionalized dalam kelas penguasaan/ masyarakat.
Ø  System administrasi Negara yang baik yang benar-benar mewujudkan birokrasi.
Ø  Adanya system pengumpulan data yang baik dan teratur dan terpusat.
Ø  Penciptaan iklim yang baik dan teratur dari masyarakat terhadap modernisasi.
Ø  Tingkat organisasi yang tinggi.
Ø  Sentralisasi wewenang dalam pelaksanaan.


      3.      Ciri-ciri Modernisasi
      Modernisasi merupakan salah satu modal kehidupan yang ditandai dengan ciri-ciri:

Ø  Kebutuhan materi dan ajang persaingan kebutuhan manusia.
Ø  Kemajuan teknologi dan industrialisasi, individualisasi, sekularisasi, deferensisasi, dan akulturasi.
Ø  Modernisasi memberikan banyak kemudahan bagi manusia.
Ø  Berkat jasanya, hamper semua kleinginan manusia terpenuhi.
Ø  Modernisasi juga memberikan melahirkan teori baru.
Ø  Mekanisme masyarakat berubah menujuh prinsip dan logika ekonomi serta orientasi kebendaan yang berlebihan.
Ø  Kehidupan seseorang perhatian religiusnya dicurhakna untuk bekerja dan menumpuk kekeyaan.


         F.    PERADABAN INDONESIA DI TENGAH MODERNISASI DAN                        GLOBALISASI
Arus modernisasi dan globalisasi adalah sesuatu yang pasti terjadi dan sulit untuk dikendalikan, terutama karena begitu cepatnya informasi yang masuk keseluruh belahan dunia, hal ini membawa pengaruh bagi seluruh bangsa didunia, termasuk didalam bangsa Indonesia.
Tujuan akhir dari kudua usaha atau kewajiban ini adalah masyarakat modern yang tipikal Indonesia, masyarakat yang tidak hanya mampu membangun dirinya sedertajat dengan bangsa lain, tetapi juga tangguh menghadapi tantangan kemerosotan mutu lingkungan hidup atau arus ilmu dan teknologi modern maupun menghadapi tren global yang membawa daya tarik kuat ke arah pola hidup yang bertentngan dengan nilai-nilai luhurbangsa. ( Indra Siswarini, makalah, 2006: 16)
Pertanyaannya, mampukah kita membangun bangsa di tengah-tengah modernisasi dan globalisasi dalam arus yang semakin kuat? Jika jawabanya “ya” maka kita akan maju menjadi begara maju yang masih berjati diri Indonesia, jika “tidak”, maka selamanya kita akan menjadi bangsa yang terjajah. Salah satu yang bisa menjawab “ya” adalah peranan lembaga pendidikan untuk terus menggali ilmu pengetahuan dan teknologi serta informasi tanpa menghilangkan jati diri Indonesia melalui pelestarian nilai-nilai dan moral bangsa.

Sumber / Referensi : Ilmu Sosial & Budaya Dasar "Edisi Kedua" 
Copyright 2006, Bandung
Penerbit: KENCANA PRENADA MEDIA GROUP

Senin, 25 November 2013

Menpera Ingatkan Jokowi Tindak Tegas Perusahaan Pengembang Nakal

Jakarta - Menteri Perumahan Rakyat, Djan Faridz menemui Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo. Keduanya membahas optimalisasi UU No 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman di Jakarta.

"Kita sudah keluarkan peraturannya. (UU) itu juga sudah bentuk menjadi Permen (Peraturan Menteri), tinggal sanksinya mereka yang melanggar, silakan Pak Gubernur yang jalankan," ujar Djan.

Djan menjelaskan, UU tersebut mencantumkan aturan bagi perusahaan pengembang yang melakukan pembangunan wajib memberikan 20 persen dari nilai investasinya dalam bentuk pemukiman untuk masyarakat. Konteksnya dalam hal ini adalah rumah susun.

Sanksi bagi perusahaan properti yang tak taat aturan antara lain teguran lisan atau tulisan, mencabut izin investasi hingga sanksi hukum. Djan meminta Jokowi untuk tak perlu takut memberikan sanksi.

"(Kemenpera) baru pendataan, mana(perusahaan pengembang) yang belum memenuhi kewajibannya, mana yang sudah. Mudah-mudahan Desember (2013) sudah ada tindak lanjut," ujarnya.

Diwawancarai terpisah, Jokowi mengakui masih ada sejumlah perusahaan yang tak patuh pada peraturan tersebut.

"Nanti akan saya bawa di Rapim. Kalau sudah ada tindaklanjutnya saya sampaikan ke kalian-kalian (wartawan)," ujar Jokowi.

OPINI :
            Menurut saya bapak jokowi harus bertindak lebih cepat dalam menangani masalah ini, agar tidak adanya pengabaiyan oleh pihak perusahaan, dan agar juga tidak ada warga yang terlantar..

Sumber :

http://news.detik.com/read/2013/11/25/231343/2423263/10/menpera-ingatkan-jokowi-tindak-tegas-perusahaan-pengembang-nakal?9922022

Senin, 28 Oktober 2013

Langkah Jokowi Basmi Topeng Monyet Harus Dicontoh Gubernur Daerah Lain

Topeng Monyet yang terancam ditertibkan.
Jakarta - Praktek pertunjukan topeng monyet di Jakarta sudah mulai ditertibkan. Jakarta Animal Aid Network (JAAN). berharap penertiban topeng monyet ini dicontoh oleh daerah-daerah lain di seluruh Indonesia.

"Penertiban topeng monyet harus diikuti semua daerah ya, tidak hanya di Jakarta saja. Walaupun memang paling banyak di Jakarta," ujar aktivis JAAN Benvika saat berbincang dengan detikcom, Minggu (27/10/2013).

Benvika mengatakan bahwa dalam jangka waktu dekat ini, daerah-daerah penyangga di sekitar Jakarta juga segera mengikuti langkah yang sudah dilakukan Pemprov DKI Jakarta. Sebab, diperkirakan para pelaku topeng monyet dari Jakarta akan berpindah ke sekitar Jakarta seperti di Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi.
"Jabodetabek menjadi pelarian dari Jakarta," lanjutnya.

"Yang sudah mulai bergerak sekarang Bandung. Dua hari setelah Jakarta (menertibkan)," imbuh Benvika.
Benvika bercerita bahwa upaya pemberantasan praktek topeng monyet di Jakarta kali ini bukan yang pertama kalinya. Pemprov DKI sudah pernah melakukan upaya penertiban pada tahun 2011 dan 2012.

"Namun saat itu hanya pakai pendekatan-pendekatan, baru sekarang menggunakan instruksi gubernur," tutup Benvika.

Opini :
                Menurut saya hal ini sangat bagus dikarenakan untuk mencegah penyebaran virus, tetapi nasib para pekerja topeng monyet harus diperhatikan, mereka harus mendapatkan pekerjaan yang baru, jangan ditelantarkan nanti menumpuknya jumlah pengganguran, pengganguran itu memancing hal kriminalitas.

Sumber :

Senin, 14 Oktober 2013

Tanah Abang Masih Macet, Jokowi "Semprot" Dishub


Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat
JAKARTA - Kosongnya jalan raya Tanah Abang dari pedagang kaki lima (PKL), tak membuat kemacetan di kawasan terurai secara permanen. Penumpukan kendaraan masih terjadi lantaran tak ada petugas Dinas Perhubungan di Posko Terpadu.

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) pun akan melayangkan surat kepada Dinas Perhubungan DKI untuk tetap berjaga.

"Tiga kondisi pos jaga kosong. Sebanarnya lalu lintas sudah longgar, tapi tidak ada yang ngatur. Saya bikin perintah tertulis besok Rabu (16 Oktober 2013)," ujar Jokowi di rumah dinasnya, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (14/10/2013).

Mantan Wali Kota Solo menilai, apa yang menjadi kendala selama ini bukan hal rumit untuk dijalankan, asalkan ada petugas yang terjun langsung ke lapangan untuk menata lalu lintas.

"Sekarang enggak ada petugas, di sini hanya satu. Persoalan kecil seperti ini harus diselesaikan," tegasnya.

Apa yang berjalan saat ini, kata Jokowi, hanya melakukan perintah secara lisan. Karena itu, apa yang diinginkannya tidak berjalan sesuai harapan. "Sekarang ini cuma perintah lisan. Nanti perintahkan semuanya Rabu," tandasnya

Opini :

            Hal ini perlu ditindak lanjuti, mengingat bahwa pasar tanah abang adalah pusat perdagangan diJakarta, dan pastinya banyak orang yang berdatangan kesana. Seharusnya petugas harus konsisten dalam berjaga, dan harus berjaga disetiap titik rawan kemacetan yang berada di tanah abang. Dan jangan sampai tanah abang menjadi macet lagi.  

Sumber :

Minggu, 06 Oktober 2013

Gubernur DKI Jakarta, Jokowi Dodo Sedang Memantau Kegiatan KAKI LIMA NIGHT
Jakarta - Pemprov DKI mulai menata para PKL yang selama ini berjualan di pinggir jalan. Salah satu caranya dengan membuat acara Kaki Lima Night Market di sepanjang Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Gubernur Jokowi ingin acara ini menjadi ajang promosi untuk PKL. 

"Ini jadi tempat berjualan dan promosinya usaha PKL yg ada di kampung-kampung. Kalau mereka nggak dikasih ruang atau showroom, memasarkannya gimana ?. Ini kita beri ruang, tapi diatur dengan manajemen yang baik," kata Jokowi di Kantor DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Minggu (6/10/2013).

Acara yang akan dilaksanakan setiap malam minggu ini memang dijadikan ajang untuk mencari untung bagi PKL sekaligus hiburan bagi warga yang datang.

"Ini dikombinasikan antara produk dan kuliner. Ada hiburannya dengan 3 panggung. Yang paling penting sebagai tempat hiburan masyarakat di malam minggu. Ini jadi publik area lagi buat masyarakat dan rutin di malam mingggu," katanya. 

Menurutnya, selama ini para PKL kurang diberi ruang yang baik untuk berjualan sehingga hasil yang diterima pun tidak maksimal. Sebagai pencetus acara ini, Jokowi menjanjikan perbaikan secara bertahap untuk pelaksanaan kegiatan ini.

"Produk itu muncul di tempat yang kumuh dan tempat yang bagus itu akan berbeda. Minggu depanlah kita lihat akan ada perbaikan," ucapnya.

Dihubungi terpisah, PLT Dinas UMKM DKI, Andi Baso mengatakan masih ada beberapa kekurangan selama kegiatan. Misalnya saja penerangan lampu yang kurang terang.

"Seperti disampaikan Pak Jokowi, memang lampunya kurang. Kalau kata Pak Jokowi misal lampu lebih terang pasti lebih menarik. Kami memang tidak berani pasang terlalu terang karena semalam habis hujan. Nanti keedepan akan lebih meriah ini," ucapnya.

Belum diketahui berapa keuntungan yang diterima para pedagang pada malam itu. Namun, Jokowi sendiri sudah merasa senang karena kembali membuat program hiburan masyarakat dan merangkul PKL dalam satu tempat

Opini :
Kegiatan itu memang sangat bagus, tetapi pemerintah harus lebih memperhatikan dari segi keamanan, kebersihan, dan kenyamanan.
Apakah tempat kegiatan itu sudah aman? Belum tentu, sebab dari segi penerangannya saja sudah tidak mendukung. Lebih baik diperbaiki, dan menurut saya selama kegiatan itu berlangsung, harus ada pos-pos keamanan yang menjaga keamanan selama kegiatan itu berlangsung. Agar tidak ada hal-hal seperti pencopetan dan pemerasan.
Apakah tempat kegiatan itu sudah bersih? Belum tentu juga, lebih baik disetiap jalannya disediakann tempat sampah, dan diperlukan kesadaran dari para pengunjung dan penjual agar tidak membuang sampah sembarangan.
Dari segi kenyamanan, lebih baik di berikan tempat duduk disepanjang jalan kegiatan itu berlangsung.